Cerita ini kita, cerita ini cinta kawan. Yang kita buat tanpa sengaja. Dipertemukan tanpa tau arah jalan. Awalnya buta. Ya kan? Hanya kerena sebuah title tak bermakna benama RSBI yang mempersatukan kita. Di ruang kelas yang "katanya" sudah di fasilitasi berbagai macam barang penunjang belajar. Namun aku rasa hasilnya tetap nihil. Kita memilih jalan ini bersadarkan "saran" orang tua. Di ruangan sekitar 5x5 meter, pada hari pertama. Bertemu dengan yang akan membimbing kita selama satu tahun. Kesan pertama yang aku dapatkan adalah "haah", orang itu lelaki paruh baya, dengan rambut tipis menghiasi kepalanya. Badannya tambun begitu juga kepalanya. Matanya yang sipit mencoba melihat kertas yang dipegangnya. Memangil nama kami satu persatu. "Tak aku kenal". Beliau mencoba memberikan perhatian. Kami "mencoba" menghargai itu. Tatapan matanya yang kebapakan tetap saja tak memberikan kami gambaran kami akan kemana.
Lambat laun cerita kita terbentuk, mulai dari tak kenal, sampai tertawa bersama dan menertawai sesama. Tawa dan tangis tercampur menciptakan adonan cinta dan menimbulkan rindu. Sayang. Dengan saus manis yang tertuang dari botol hasil canda kita. Sebuah hidangan dari piring kecila yang kita ciptakan, menghasilkan makanan dengan resep kita sendiri kawan.
Kue itu dibuat dengan cinta untuk meraih cita. Ditaburi saus sebagai pelengkapnya. Diracik sempurna selama tiga tahun bersama. Membuat satu lagi cerita diantara piring-piring makanan yang bertumpuk disana.
Tapi ketahuilah kawan, piring kita lah yang paling bersinar. Yang paling menggoda dan banyak cerita. Menghadirkan surga dunia saat dicicipi. Hidangan itu kini berada di etalase toko kue paling mahal didunia. Dilihat semua orang yang berlalu lalang.
Kue itu milik kita kawan. Kue bertajuk "dua puluh delapan cerita" milik eSBatu jaya.
Yang tercipta hanya untuk kita, kita dua puluh delapan.
_eSBatu 11, Gigih Virgia

Terimakasi untuk kawan2 yang telah mengisi sebagian cerita besar dalam hidup saya ^,^
ReplyDeleteKeren banget :) kangen kalian semuaaaa
ReplyDelete-Dini-
kaot wah maspur
ReplyDelete-21-